Sang Khayali Ku
Selama ini hampir ku tak sanggup untuk berkata, bukan karena malu dengan sebuah kenyataan yang selama ini membelenggu hati, tubuh rapuh ini. Tapi sebuah bukti yang benar adanya dalam kehidupan untuk mempunyai Khayali seakan menjadi angan yang penuh dengan harapan, tapi tak satu hasil yang berarti untuk membuat hati menjadi sedikit tersenyum. Hati kecil berontak, tak mau dikatakan sang Pecundang yang kecil angan untuk sebuah hati sang Khayali, hanya saja sebuah perasaan takut akan pengalaman yang menjadikan sebuah dilema, dan itupun tak kunjung pergi dari hitamnya kelopak mata dan putihnya hati tulusku.
Tak tau sampai kapan rasa sunyi ini kan terus mengikat hati, tak heran jika perkara ini menjadikan hati gelap, penuh nafsu dan menjadi membabi buta untuk mendapatkan sang Khayali. Sampai sebuah tulisan tak berarti ini tertulis, perasaan takut, gila, terus membayangi ucapan demi ucapan.
Setelah kata hatiku kuucapkan, di malam yang hanya 12 jam terasa berat, rasa takut akan kehilangan sang Khayali menjadi bunga tidur yang memekik fikiran.
Sekarang aku harus bisa lepas dengan semua yang menjadi teman sepiku, sekarang tujuan hidup mereka telah di putuskan, hanya tinggal aku yang harus bisa menentukan jalan untuk maju. Tapi.....
"Bagaimanakah aku harus maju?"
"Kapan aku harus memulainya?"
"Dan harus dari manakah uwntuk memulai semua itu?"
Pertanyaan konyol itu selalu membungkus otak dungu ini, karena selama ini otak dungu yang aku junjung, aku kenakan hanya berfikir bahwa angan-angan dan harapan menjadi sesuatu yang dapat menjadikan hatiku tertawa bahagia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar